Posts Tagged ‘ mahasiswa ’

Tentang Mimpi dan Mengabdi untuk Negeri

on-the-road-indonesia-background-full

Memasuki babak akhir masa perkuliahan memang tidak mudah, terutama bagi saya, kalau temen-temen yang lain gatau deh, keliatannya sih sama juga, haha. Sudah menuju angka satu tahun saya menyelami dinamika ‘aktivitas’ mahasiswa tingkat empat. Saya dituntut harus bisa berdamai dengan diri sendiri untuk bisa menaklukan raksasa besar bernama tugas akhir. Finally I know how it feel. Tugas akhir ini bukan perkara mudah, apalagi buat saya yang orang ekstrovert, dimana mood gampang kepengaruh sama lingkungan sekitar. Entahlah rasanya susah untuk bisa fokus dan ngerjain si TA kalu tidak ada dorongan kuat dari luar (alesan aja sih sebenernya, bilang aja males, hehe). Tapi kita gak akan bahas raksasa ini lebih jauh, biarkan power rangers dan megazord yang menanganinya.

Memasuki babak akhir masa perkuliahan memang tidak mudah, terutama bagi saya, kalau temen-temen yang lain gatau deh, keliatannya sih sama juga, haha.

Menjadi mahasiswa di penghujung kehidupan kampus memaksa kami untuk memikirkan masa depan. Meskipun harusnya udah dipikirin dari dulu, tapi rasanya berbeda karena kali ini ada benturan baru bernama realitas. Barangkali dulu kita bermimpi sangat tinggi dengan bisa bekerja di perusahaan multinasional super gede pasca lulus. Bisa langsung kaya di hari pertama, punya rumah di hari kedua, mobil keempat di hari ketiga, dan istri ke.. ah sudahlah. Intinya banyak penyesalan yang datang karena lagi lagi peningkatan kompetensi diri tidak bisa saya maksimalkan semasa kuliah dulu. (ps: buat para adik kelas jangan ditiru ya, semangat kuliahnya!). But life must go on. Suka atau tidak, kami harus memikirkan masa depan yang sebentar lagi menghantam membabi buta.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa negeri ini akan lebih baik dengan bertambahnya jumlah orang-orang terdidik dan berpendidikan tinggi. Kemenangan seorang Muhammad Alfatih tak lepas dari kecerdasannya menggunakan strategi meriam berteknologi mutakhir, kedigdayaan developed country seperti di amerika dan eropa tentu karena banyaknya kaum intelektual, dan pastinya janji Allah untuk menaikan derajat para penuntut ilmu. Hal tersebut adalah sederet bukti dan alasan kuat yang membuat saya bertekad harus meneruskan pendidikan ke janjang yang lebih tinggi.

Namun lagi-lagi saya kembali merenung antara dua pilihan. Kuliah langsung atau kerja terlebih dahulu? Meskipun sejak dulu saya punya plan untuk kerja sebelum S2, namun ingin rasanya saya segera berangkat saja menyusul kawan-kawan saya yang ada di jepang, atau menuju eropa mengikuti jejak beberapa kakak kelas yang sudah disana.  Akhirnya selama hampir sebulan saya melakukan riset (gaya amat bahasanya) dengan berdiskusi bersama beberapa orang dari berbagai latar belakang, termasuk berdiskusi dengan Mommy and Daddy tentunya.

Akhirnya keputusan saya sudah bulat, kembali ke plan awal, saya harus kerja dahulu. Bukan tanpa alasan, keinginan saya untuk langsung S2 mentok di pertanyaan bidang apa yang akan di ambil, dan bagaimana nanti akan diimplementasikan di negeri tercinta. Berhubung saya juga belum ada niatan untuk menjadi dosen, maka bekerja terlebih dahulu adalah sebuah keharusan bagi saya. perlu adanya insight terhadap kebutuhan lapangan yang cukup baik bisa didapat dari dunia kerja. Saya tidak ingin pada akhirnya menyesal menghabiskan 2 tahun usia pada sesuatu yang kurang bisa diimplementasikan dengan baik.

keinginan saya untuk langsung S2 mentok di pertanyaan bidang apa yang akan di ambil, dan bagaimana nanti akan diimplementasikan di negeri tercinta.

Kembali ke judul di atas, perkara mengabdi untuk negeri menurut saya adalah hal esensial. Pastinya memang tidak mudah, banyak case yang terjadi dimana ilmu tidak dihargai, susah mendapat dana riset, dan seterusnya. Namun bagaimanapun saya meyakini bahwa suatu saat negeri ini akan berubah menjadi lebih baik. Dengan semakin banyaknya kaum intelektual yang kembali, maka perhatian akan dunia keilmuan akan bergeser ke arah yang lebih baik. Lahirnya besiswa LPDP misalnya, ini adalah kemajuan luar biasa dimana pemerintah menggelontorkan dana yang begitu besar untuk para pemuda penerus bangsa yang akan melanjutkan studi, baik di dalam negeri maupun abroad.

Karena itu silahkan pergi sejauh-jauhnya, kejar ilmu sampai tempat lahirnya, tapi jangan lupa untuk kembali pada ibu pertiwi. Mari rasakan nikmatnya berjuang diatas aspal panas ibukota, diatas tanah hasil perjuangan para pahlawan , mengabdi untuk Indonesia. Suatu saat nanti, pilar-pilar penopang negeri ini akan pindah ke pangkuan anak-anak muda sekarang, karena itu saatnya #MudaBergerak, Hahaha.

Semoga idealisme ini tetap bisa saya pegang sampai seterusnya. Salam hangat 🙂

Mari bersama rasakan nikmatnya berjuang diatas aspal panas ibukota, diatas tanah hasil perjuangan para pahlawan , mengabdi untuk Indonesia.

 

 

Kuliah Dua Tahun, Udah Bisa Apa?

Toga-dan-Ijazah-Kuliah

Salam hangat reader :D. gaya banget ya gue, haha. Oke kita awali tulisan kali ini dengan sebuah cerita. Jadi sekitar beberapa waktu lalu saya bertemu dengan tante saya dalam sebuah acara keluarga besar, kebetulan karena kuliah di Bandung kami jadi jarang komunikasi. Singkat cerita terjadilah perbincangan ringan, dan sampailah pada suatu momen..

“ Kamu kuliah di Bandung, kan? Jurusan apa? ”, Tanya tante saya.

“ Iya tante, Jurusan Informatika semester 4”, jawab saya agak datar dikit.

“ wahh tahun kedua ya, udah bisa bikin apa ? “ , mendadak bumi berhenti berputar.

Gak usah diterusin lah ya ceritanya, karena pasti udah ketebak endingnya. For ordinary student such as me, that’s question is so damn difficult to answer. Bagi mahasiswa jurusan informatika, ilmu komputer, dan sohib-sohibnya, adalah keharusan untuk bisa menunjukan hasil dari kuliahnya secara nyata. Dan ini jleb banget ! Baca lebih lanjut

Apa Salah Pemuda Zaman Sekarang?

“Beri Aku 10 Pemuda, Maka Akan Kuguncang Dunia!” – Ir. Soekarnoaktivis6
Sungguh taka asing lagi terdengar, dan memang tak bisa kita pungkiri bahwa pemuda melahirkan sejarah penting dalam lini masa peradaban bangsa ini. Banyak jasa-jasa pemuda yang sampai saat ini tidak bisa kita lupakan, dari tuntutan proklamasi Rengasdengklok hingga lahirnya era reformasi 1998. Banyak dari pemuda memainkan peran disana, dan barangkali saat ini sosok pemuda pembawa identik dengan mahasiswa.
Peran mahasiswa yang (katanya) sebagai agent of change, menurut saya, kini sudah semakin tergerus seiring dengan melajunya era teknologi informasi. Berangkat dari kisah saya dan beberapa kawan di kampus yang berkecimpung di berbagai wadah organisasi, terdapat satu permasalahan yang sama, meskipun latar belakang dan tujuan organisasi kami berbeda. Masalah itu tak lain adalah minimnya minat mahasiswa untuk mengambil peran dalam ruang lingkup organisasi.
Kira kira apa permasalahannya? Apakah jumlah mahasiswa terampau sedikit? Tidak, kalu diambil contoh kampus saya meliki lebih dari 7000 mahasiswa , yang setidaknya 5000 diantaranya berada pada masa aktif. Kalau begitu, Apakah publikasi kami kurang? Saya rasa tidak juga. Barangkali tidak semua mahasiswa mendapatkan informasinya,tapi yang jelas kami telah berusaha menyebarkanya melalui baliho, poster, sms, jejaring sosial, whatsApp, Line, dan metode-metode lainnya. Lalu apakah permintaan organisasi kami banyak? Sangat tidak sulit untuk mendaftar di organisasi kami, dan jumlah permintaan juga hanya berapa puluh saja.
Sulit mengatakannya, tapi menurut saya mahasiswa sekarang lebih dan bahkan jauh lebih apatis. Tentu akan sangat miris jika kita membayangkan pada zaman orde baru dahulu begitu sulitnya mahasiswa untuk bergerak dan berdiskusi, apalagi berorganisasi dalam sebuah wadah yang legal. Pastinya akan sangat kecewa apabila Soe Hoek Gie melihat perjuangannya dalam melegalkan kebebasan berpendapat, kini malah disia-siakan oleh generasi-generasi penerusnya.
Jika kita mengacu pada pembagian mahasiswa menjadi hedonis, akademis, dan aktivis, maka grafik hedonis saat ini sedang mengalami kenaikan, akademis cenderung stabil, dan aktivis mengalami penurunan. Tampak bahwa kaum hedonis kian banyak dengan ramainya acara-acara lawak dan konser yang tak manfaat, kaum akademis cukup stabil dengan masih ramainya peminat dalam rekruitasi laboratorium dan acara-acara seminar yang mengembangkan skill individu, sedangkan aktivis? Seperti yang saya sebutkan di awal.
Entah kenapa minat mahasiswa untuk berkontribusi memberikan kebermanfaatan melalui organisasi kini sangat minim. Banyak yang lebih senang duduk di depan televisi tertawa tidak karuan dibanding bersusah-susah aksi menyuarakan kebenaran. Banyak pula yang lebih mementingkan kemampuan individu semata dan menutup mata pada lingkungan. Ada pula yang takut IP turun padahal justru banyak mengisi waktu dengan bermain game dan update status.
Siapakah yang akan mengisi posisi-posisi penting parlemen, legislatif, dan kursi kepemimpinan di masa depan kalau bukan pemuda sekarang? Tapi apakah generasi-generasi lemah yang akan dijadikan tumpuan bangsa ini? Untukmu pemuda, untukmu para mahasiswa–mari bergerak, mari peduli lingkungan. Sesungguhnya peradaban Indonesia membutuhkan pejuang-pejuang tangguh, bukan generasi apatis yang minim kepekaan.