Ayah Hebat (Part I)

3d-abstract_widewallpaper_running_54310

Ahad, 02 Juli

“ Ayo sedikit lagi, kamu pasti bisa “

“ hiaaaaa …”

Kau berlari melewatiku dengan tenaga yang tersisa. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakumu itu. Kau pasti bangga pada dirimu sendiri karena berhasil mencapai target yang sudah lama kau impikan. Berlari dengan jarak tersebut cukup melelahkan bahkan untukku. Kau sungguh hebat. Baca lebih lanjut

Teruntuk Abangku Tersayang, Selamat Menghitung Hari Menuju Fase Baru Kehidupan

flickr_holdinghands_michaelnpatterson

 

Aku ingat sekali kala itu, kau duduk nyaman di sebelahku. Sinar mentari mulai menembus kaca depan secara perlahan dan memberikan kehangatan. Kita berdua berbincang banyak hal, dari yang penting sampai tidak penting. Dari yang serius sampai bahkan hanya basa basi. Sesekali dirimu mengagetkanku ketika mobil yang kubawa hampir menyerempet motor di sebelah kiri. Haha, Kau tidak pernah bosan mengajari adikmu yang payah ini. Sadar maupun tidak, dirimu telah menjadi sosok yang amat penting bagiku. Seorang kakak terbaik di dunia yang begitu aku hormati dan sayangi. Alangkah  beruntungnya diriku karena memilikimu.

Guyonan-guyonan kecil dalam keluarga lama kelamaan menjadi sesuatu yang nampak nyata sekarang. Ya, sebentar lagi dirimu akan menghadapi fase penting dalam langkah hidupmu di dunia ini. Menjadi seorang kepala keluarga, seorang suami, dan pahlawan bagi anak-anakmu kelak. Baca lebih lanjut

Pembelajaran Kecil

rainy-night-in-new-york-city

Malam itu Jakarta cukup berawan, meninggalkan riak-riak air dalam hembusan angin sisa hujan tadi sore. Mobilku melaju agak kencang. Arus lalu lintas yang cukup longgar adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi penghuni Ibu Kota dengan kepadatan penduduk yang amat tinggi. Jakarta semakin padat saja, entah berapa ribu orang tiap tahunnya dating kesini untuk mengadu nasib.

Sudah hampir 20 menit berlalu sejak aku menjemputmu di gedung tadi, namun kau masih saja diam. Suara musik rendah yang berputar sedikit mengurangi kekosongan suasana dalam mobil. Kau tahu, ada puluhan bahkan ratusan percakapan yang bisa aku mulai, dari yang terlihat penting sampai yang amat tidak penting. Namun urung rasanya diri ini, karena aku tahu suasana hatimu sedang tidak nyaman. Bingung rasanya memilih langkah agar tidak membuat keadaan lebih keruh. Baca lebih lanjut

Travelling Part II: Jogja

Perjalanan kami pun berlanjut. Setelah sebelumnya kami melepas haru biru dengan Mas Alam, Mas Roma, Mas Hafizh, Mas Bopal, Mas Rifai, dan Mas Su’ep, Oke nama terakhir ga ada, yang rela menjadi ojeg pengantar kami ke terminal anu (lupa namanya) di Semarang. Setelah berkeliling mencari tiket bis yang katanya lebih murah dari travel, Alhamdulillah kami ngga dapet. Dan karena tidak ada pilihan lain akhirnya kami memilih travel dengan harga 55k. Petugas loketnya sih bilang bisa turun di bunderan UGM, Alhamdulillah. Meskipun sebenernya kami nggatau dimana itu bunderan UGM.

Mobil melaju pada pukul 18.00, wuzz. Tiba-tiba waktu berjalan begitu cepat (tidur-red) hingga saatnya mobil berhenti. Kami pun turun dan melihat sekeliling. Rupanya kami diturunkan di pool travel tersebut, bukan di bunderan UGM. ohmen ditipu lagi, pfft. Alhamdulillah masih bisa sampai dengan selamat dan tepat waktu, begitulah pikiran kami agar tidak terlalu sakit hati.

Dalam kegelapan malam yang pekat kami menunggu. Tiba-tiba segerombolan motor datang menghampiri kami. Pikiran kami berkecamuk. Keringat asin mulai mengalir memasuki kerongkongan kami. Teringat berita-berita di Bandung yang banyak menceritakan tentang korban ulah geng motor. Apakah jogja juga seperti itu? Sejenak kami memikirkan opsi lain selain kabur tanpa alas kaki, diantaranya: bertingkah seolah warga setempat dengan logat jawa aksen sunda, mendadak pingsan, dan pura-pura jadi polisi tidur. Tapi akhirnya semua opsi itu tidak jadi kami gunakan karena motor-motor tadi adalah teman kami yang menjemput. Jayus banget sih gw.

Sambutan Gradiator Jogja-pun tak kalah dengan Semarang, keduanya sama-sama menyambut kami dengan hangatnya cinta, meskipun tidak dua-duanya memberikan traktiran. Becanda,om, hhe. Singkat cerita sampailah kami ke kontrakan bersama 4 orang geng motor penjemput kami yaitu Ivan, Azhar, Saeju, dan Fadlun. Tak lama kemudian datanglah seorang berlagak sok imut yang senyum-senyum sendiri. Hampir saja terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, namun untungnya kami berhasil mengenali orang tersebut sebagai sahabat kami bernama Abid.

Esok hari kami pergi membeli sarapan nasi uduk. Setelah mengecek dompet akhirnya ane memutuskan untuk membeli lauk telur dadar. tak lama kemudian teman kami bernama kurniawan membeli lauk dan betapa kagetnya ane ketika mengetahui harga ayam dan telur dadar sama. Beberapa teman seketika memegangi tangan ane karena secara mendadak ane berusaha menggorok leher ane sendiri atas penyesalan tidak mengambil ayam yang harganya sama dengan telor dadar. Untung saja keadaan dapat terkendali seperti sediakala.

Siang hari teman-teman akhwat (cie akhwat) datang menghampiri kontrakan. Ada Nida, Dhila, dan Fitri. Nama terakhir membawa makanan untuk kami, Alhamdulillah rejeki anak soleh. Setelah itu kami pergi menemani Moza untuk ambil tiket. Di perjalanan pulang kami sempat mampir ke masjid yang ada di film Sang Pencerah. arsitekturnya masih asli sejak awal dibangun, nama masjidnya adalah Masjid Kauman.

Penampakan interior Masji Kauman

Penampakan interior Masji Kauman

Umar sang Arkeolog penuh semangat menceritakan seluk beluk sejarah Masjid Kauman

Umar sang Arkeolog penuh semangat menceritakan seluk beluk sejarah Masjid Kauman

Alhamdulillah kita bertemu cucu Gareth Bale

Alhamdulillah kita Gareth Bale udah sholat sekarang

Selanjutnya pada malam hari acara sambutan secara resmi dihelat. Lokasinya di restoran SS, pokoknya S yag terakhir Sambal, S sebelumnya apa lupa. Disana terjadilah pembulian besar-besaran terhadap kegagalan ane memenangkan sebuah ‘pertempuran’ di kampus. Pfft. Setelah kenyang makan dan membully, kami merencanakan agenda besok. Sebagai tamu ane ikut aja, syukur-syukur ada yang mau bayarin makan juga besok hhe. Ohiya akhirnya diambilahk esimpulan kami akan pergi ke candi ijo.

Trio Geliga, XII NS3

Trio Geliga, XII NS3

wajah-wajah lapar menanti sebuah jawaban

wajah-wajah lapar menanti sebuah jawaban

Suasana pembantaian sambal, nasi, dan lauk pauk oleh sekumpulan mahasiswa haus kasih sayang orang tua

Suasana pembantaian sambal, nasi, dan lauk pauk oleh sekumpulan mahasiswa haus kasih sayang orang tua

Candi Ijo. Hayo sebelah mananya yang ijo?

Candi Ijo. Hayo sebelah mananya yang ijo?

Untuk struktur bangunan sendiri, candi ijo tidak memiliki banyak bangunan. Bahkan sebagian masih berupa puing-puing yang belum tersusun, namun ada sebuah hal unik dari candi ini. Keunikan tersebut yaitu letaknya yang berada di daerah pegunungan (dataran tinggi, iyalah). karena alasan itu pula kami jadi mendadak buas lapar tak terkira.

Lapar 1

Lapar 1

Lapar rame-rame :v

Lapar rame-rame :v

Lapar bngit :p

Lapar bingit :p

Setelah adegan saling makan dimakan, kami memutuskan untuk mengisi waktu dengan bermain permainan werewolf. Mendengarnya saja udah serem, tapi ternyata rada jayus juga gamenya, haha. Di tengah keseruan bermain, cuaca mendadak tidak bersahabat. mungkin karena kami masuk tidak bayar tadi (tapi emang gratis sih).

Sebelum ide game werewolf muncul, kami berniat untuk bermain adu cepat menyusun 99 candi dalam semalam. sayang itu hanya dongeng

Sebelum ide game werewolf muncul, kami berniat untuk bermain adu cepat menyusun 99 candi dalam semalam. sayang itu hanya dongeng

awannya turun. jadi  kita berada di dalam awan yang engandung air hujan (sotoy)

awannya turun. jadi kita berada di dalam awan yang mengandung air hujan (sotoy)

Air tidak menghalangi semangat kami untuk mengabadikan momen *tsah

Namun air tidak menghalangi semangat kami untuk mengabadikan momen *tsah

Air juga bukan penghalang untuk ke-narsisan ane kami

Air juga bukan penghalang ke-narsisan ane kami

Air tidak menghalangi pula ke-alayan kami. (begaya apa coba madep belakang gitu, serius bukan ide ane)

Air tidak pula menghalangi ke-alayan kami. (begaya apa coba madep belakang gitu, serius bukan ide ane)

kami mengambil kesimpulan bahwa keadaan menuntut kami untuk pergi mencari tempat teduh, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke rumah pipeh sekalian mencari sesuap nasi gratis. ngga tau diri emang, tapi itulah faktanya.

Gratis Kebersamaan itu nikmat :D

Gratis Kebersamaan itu nikmat 😀

Mendadak tercetus ide untuk pergi ke rumah Ima, lalu seseorang berinisiatif untuk menelponnya. dari percakapan yang terjadi terlihat Ima sedang fokus belajar untuk ujian besok. tapi dasar emang gak tau malu, disambangin juga datuh rumahnya. namun jangan salah, tujuan kami baik kok, untuk silaturahim. kalo dapet makanan itu berarti silaturahim kami membawa keberkahan :p

Beuh cewek-ceweknya  masih laper aja, padahal udah makan banyak. ckck

Beuh cewek-ceweknya masih laper aja, padahal udah makan banyak. ckck

cowok-cowoknya cool gitu (padahal udah nyendok nasi duluan tadi)

cowok-cowoknya cool gitu (padahal udah nyendok nasi duluan tadi, tambah ngabisin kue beberapa toples)

Lag-lagi dadakan, kami berencana menyambangi rumah Sofyan, sahabat kami yang sempat hilang dari peradaban karena sibuk mengurus adik-adiknya yang sekolah di Jogja :”. Tapi tujuan kami benar-benar lurus kali ini, bukan untuk makanan.

Senyumnya tidak berubah :D

Senyumnya tidak berubah(emang lagi senyum apa itu? :v)

Setelah dari rumah Sofyan, ane menyempatkan membeli sedikit oleh-oleh untuk di rumah. keesokan harinya ane bersama anas dan fadlun menyambangi sunmor di UGM. kirain kayak sunmor IC yang bersih-bersih sarpras ( yakali).

Makan gudeg komplit. komplit puasnya, komplit nguras dompetnya :v

Makan gudeg komplit. komplit puasnya, komplit nguras dompetnya :v

ini foto aapa gatau, lupa juga takenya dimana.

ini foto aapa gatau, lupa juga takenya dimana.

Maskam UGM. Dari luar aja udah indah banget, apalagi dalemnya (padahal belom masuk)

Maskam UGM. Dari luar aja udah indah banget, apalagi dalemnya (padahal belom masuk)

Kholid sudah berpamitan untuk pulang sedari malam, dan ane bersama Moza akhirnya pulang pada pukul 12.00. Anas sendiri nggatau kapan, mungkin dia mau pindah kampus sekalian karena tidak kuat iman di Bandung. Becanda nas.

Perjuangan ke Terminal sampai tiketnya basah. Jangan tanya baju basah apa engga

Perjuangan ke Terminal sampai tiketnya basah. Jangan tanya baju basah apa engga

Bersama Moza yang baik hati. itu di belakang bkan Bis yang akan kami naiki, cuma numpang ambil background

Bersama Moza yang baik hati. itu di belakang bukan Bis yang akan kami naiki, cuma numpang ambil background

Petualangan yang sungguh Indah bersama empat sahabat Gisen Bandung Ceria, ditemani Gradiator Semarang dan Jogja. Semoga selanjutnya bisa ke Gradiator Jatim-Intim. kalo masih diberi rezeki ke Padang juga gak nolak, Amiin Amiin Aminn. Sekian.

Memperbaiki Untuk Memulai Kembali

A-New-Dawn

Matahari kian meninggi dikala aku siap menjemput hari. Terbayang beberapa agenda yang tidak biasa akan kujalani hari itu. Aku telah siap. Rambut kusisir rapi, tak lupa kukenakan kemeja yang kubawa untuk menambah kesempurnaan pagi itu. Sarapan nasi uduk yang sedari pagi ku makan telah berubah menjadi kalori. Memberikan sumber energi yang akan menguatkan diriku menjalani jam demi jam di kota yang cukup asing ini.

Tiba-tiba pintu diketuk, lalu seseorang membukanya. Jantungku sedikit berdegup lebih cepat. Tak sadar aku terdiam beberapa saat. Akhirnya kuberanikan diri ini melangkah menuju pintu. Kulihat beberapa kawan lama berada disana, akupun menyapa mereka satu persatu. Ternyata bukan, degup jantungku berangsur kembali tenang.

Tak kusangka, di balik dinding itu kau berdiri. Mengeskalasi degup jantungku kembali berkali-kali lipat. Dengan penuh perjuangan kusebut namamu sebagai formalitas. Entah mengapa detik berikutnya aku malah kembali ke dalam untuk melakukan hal-hal bodoh tanpa arah. Ah, aku masih belum banyak belajar melewati ini. Mungkin lain waktu kita bisa saling melengkapi untuk mengatasinya. Tapi sayang, kisah klasik ini tak seindah drama-drama di televisi.

Dalam dentingan detik penghujung bulan ke dua belas, aku mencoba melihat napak tilas perjalananku setahun ke belakang. Jauh dari kesempurnaan, memang. Apalagi pada bagian itu. Meskipun banyak orang melihat hal-hal indah di sisi lainnya, bagiku itu bukanlah sesuatu yang patut untuk dibanggakan.

Banyak hal yang telah terjadi, namun masih banyak pula hal yang perlu dibenahi. Apakah aku telah siap untuk menghadapi detik-detik baru, dalam langkah pasti menyongsong hari esok yang lebih baik? masih perlu banyak pukulan, tendangan, bahkan cambukan untuk memaksanya. Agar kembali masuk ke jalan yang seharusnya, menuju impian kecil, bersama jutaan impian lain di muka bumi.

gambar dari sini.

Travelling part I : Semarang

Kita ngomongin yang seru-seru yuk :v (sok asik betul). Jadi pada kesempatan kali ini ane mau berbagi cerita jalan-jalan silaturahim ke 2 tempat yaitu Semarang dan Jogja. Kenapa ane memilih dua tempat itu? Sederhana aja sih. Karena emang udah niatin mau silaturahim region sebelum lulus, dan kedua tempat tadi cukup banyak anak Gycen nya. Ohiya sama Alhamdulillah terjangkau dompet, :v

Oke singkat cerita dari 1 bulan sebelum keberangkatan kami ber empat ( bersama Kodil, moza dan anas) udah musyawarah menuju mufakat via grup wasap mengenai perjalanan ini. Setelah diskusi mengenai itinenary, transportasi, sampai lokasi penampungan disana, akhirnya kami sepakat untuk berangkat tanggal 23 sore via bus. Karena kereta sudah ngga ada yang ekonomi pada waktu keputusan tanggal fix ( -+ seminggu sebelum keberangkatan). Baca lebih lanjut

Memaknai Sebuah Perjalanan

4276

Sebuah dunia baru, atau mungkin rumah baru terpampang begitu asing. Dengan malu-malu aku memasukinya perlahan selangkah demi selangkah. Melihat ke kanan dan ke kiri secara hati-hati. Tawa kadang menyertaiku pada sudut tertentu, namun tangis tak lepas dari momen tertentu pada ruangan nan megah di dalamnya. Seringkali aku mengerutkan kening, berfikir keras, atau sekedar istirahat untuk berhenti melangkah dalam perihnya hambatan yang kulalui.

Kini rumah itu telah kujelajahi lebih dari separuh bagiannya. Banyak sekali keindahan baru yang kulihat dan kusimpan dalam memori. Melalui napak tilas itu, kulihat langkahku seakan semakin cepat. Seringkali tanpa tolehan, bahkan sedikit lirikan untuk menikmati tiap ruas bagiannya. Pikiran-pikiran lain membuat langkah ini terasa hampa. Egoisme dalam ambisi, keacuhan dalam berbagi, dan seringkali kekesalan tanpa alasan.

Barangkali banyak, namun ini jauh dari apa yang kuimpikan sebelum memasukinya. Langkahku yang semakin jauh ke dalam membuat beban dan tanggungjawab semakin berat untuk dipikul. Aku belum siap, jauh dari siap untuk melanjutkan estafet jejak langkah yang telah ditorehkan sebelumnya. Entah sudah terlambat atau belum, yang jelas kakiku begitu berat untuk digerakkan. Mungkin bagaimanapun keadaannya aku akan tetap keluar dan memasuki rumah selanjutnya. Namun aku sadar, ketidaksiapan ini adalah akibat dari kurangnya memaknai sebuah perjalanan panjang ini.

 gambar