Archive for the ‘ my story ’ Category

Tentang Kemarin, Hari Ini, Esok, dan Seterusnya.

photo651703425824827383

Saya percaya bahwa everything happens for a reason. Setiap langkah yang membekas, waktu yang berdetak, datang dan perginya orang-orang dalam kehidupan kita – semua memiliki alasannya masing-masing dalam membentuk diri kita. Termasuk halnya masa 3 tahun saya di Insan Cendekia bersama kawan-kawan hebat nan tak tergantikan.

High school never ends, begitu katanya. Entah berapa kalipun saya menulis, ataupun membaca tulisan teman-teman saya tentang masa sma dulu tidak ada habisnya, dan entah kenapa saya juga tidak bosan untuk kembali mengenang hari-hari yang telah kami lalui bersama. Tsah..

Momen anniv ke-7 angkatan saya (waktu sma) yang jatuh pada tanggal 6 september kemarin – bagi saya – terasa cukup spesial. Karena bagaimanapun sebagian besar dari kami sudah melangkah lebih jauh melewati bangku kuliah, dan melanjutkan tahapan roda kehidupan selanjutnya. Setelah sebelumnya di masa kuliah kami dibagi per region daerah kampus, kini sedikit demi sedikit batas itu memudar seiring dengan hadirnya tempat berlabuh baru bagi masing-masing dari kami.

Anyway, masa sma dulu emang super ngangenin pake banget, namun  waktu gak akan bisa diputar lagi. Kalaupun itu bisa, belum tentu hal tersebut akan menjadi indah seperti apa yang kita bayangkan. Karena manisnya sebuah kisah, baru akan terasa ketika kita tidak lagi berada di dalamnya. Dan pada akhirnya kita hanya bisa mengenang, mengenang bersama kisah-kisah indah yang pernah kita lalui kemarin, sebagai alasan kita tetap bersama sampai hari ini, besok, dan seterusnya.

All in all, gak bosen juga saya mau ngucapin makasih banyak atas apa yang sudah kalian semua (gycentium) berikan kepada saya. Apa yang kalian lihat pada diri saya hari ini tak diragukan lagi merupakan sebuah anugerah atas kebersamaan yang pernah kita lewati. Happy Milad Gradia7or, terus kepakkaan sayapmu dan rengkuhlah setiap asa yang pernah kita gantungkan di langit-langit impian. Jangan lupa segera nikah ya semua 😉  

Iklan

Sebuah Kanvas Baru

canvas

It’s been a long day, gak buka dan menulis kembali. Banyak sebetulnya kejadian-kejadian yang teruntai dalam ingatan. Semoga ada momen tepat suatu saat nanti untuk membaginya.

Ibarat sebuah lukisan, perpaduan tetesan tinta beraneka warna, yang akhirnya membentuk sebuah pola dan gambar kini sudah memenuhi kanvas. Sudah waktunya ia diambil dan digantung pada dinding-dinding memori. Berjajar bersama deretan kanvas lain yang telah terwarnai sebelumnya.

Tak ayal banyak sekali potongan-potongan kisah yang tertuang dalam masa 4 tahun saya di kampus. Dan tentunya balutan warna ketidaksempurnaan dan penyesalan pasti selalu menyertai di penghujung sebuah kisah, apalagi jika dibandingkan lukisan milik orang lain yang pastinya banyak yang lebih indah dan menarik.

Maka sebuah tekad baru harus segera ditumbuhkan untuk mewujudkan kolaborasi warna yang lebih memesona. Kanvas putih baru telah terpasang dan siap untuk diisi. Akan ada warna-warna baru yang datang dan barangkali memberikan sentuhan keindahan yang lebih, atau jutru warna lama yang kembali hadir mengisi bagian-bagian yang masih putih. Apapun itu, semua akan segera hadirdan kita harus terus berusaha untuk selalu bergerak maju.

Hidup ini penuh dengan kejutan, maka dari itu siapkanlah senyum terbaik untuk menyambutnya. Lets Fight 🙂

 

gambar dari sini.

Tentang Mimpi dan Mengabdi untuk Negeri

on-the-road-indonesia-background-full

Memasuki babak akhir masa perkuliahan memang tidak mudah, terutama bagi saya, kalau temen-temen yang lain gatau deh, keliatannya sih sama juga, haha. Sudah menuju angka satu tahun saya menyelami dinamika ‘aktivitas’ mahasiswa tingkat empat. Saya dituntut harus bisa berdamai dengan diri sendiri untuk bisa menaklukan raksasa besar bernama tugas akhir. Finally I know how it feel. Tugas akhir ini bukan perkara mudah, apalagi buat saya yang orang ekstrovert, dimana mood gampang kepengaruh sama lingkungan sekitar. Entahlah rasanya susah untuk bisa fokus dan ngerjain si TA kalu tidak ada dorongan kuat dari luar (alesan aja sih sebenernya, bilang aja males, hehe). Tapi kita gak akan bahas raksasa ini lebih jauh, biarkan power rangers dan megazord yang menanganinya.

Memasuki babak akhir masa perkuliahan memang tidak mudah, terutama bagi saya, kalau temen-temen yang lain gatau deh, keliatannya sih sama juga, haha.

Menjadi mahasiswa di penghujung kehidupan kampus memaksa kami untuk memikirkan masa depan. Meskipun harusnya udah dipikirin dari dulu, tapi rasanya berbeda karena kali ini ada benturan baru bernama realitas. Barangkali dulu kita bermimpi sangat tinggi dengan bisa bekerja di perusahaan multinasional super gede pasca lulus. Bisa langsung kaya di hari pertama, punya rumah di hari kedua, mobil keempat di hari ketiga, dan istri ke.. ah sudahlah. Intinya banyak penyesalan yang datang karena lagi lagi peningkatan kompetensi diri tidak bisa saya maksimalkan semasa kuliah dulu. (ps: buat para adik kelas jangan ditiru ya, semangat kuliahnya!). But life must go on. Suka atau tidak, kami harus memikirkan masa depan yang sebentar lagi menghantam membabi buta.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa negeri ini akan lebih baik dengan bertambahnya jumlah orang-orang terdidik dan berpendidikan tinggi. Kemenangan seorang Muhammad Alfatih tak lepas dari kecerdasannya menggunakan strategi meriam berteknologi mutakhir, kedigdayaan developed country seperti di amerika dan eropa tentu karena banyaknya kaum intelektual, dan pastinya janji Allah untuk menaikan derajat para penuntut ilmu. Hal tersebut adalah sederet bukti dan alasan kuat yang membuat saya bertekad harus meneruskan pendidikan ke janjang yang lebih tinggi.

Namun lagi-lagi saya kembali merenung antara dua pilihan. Kuliah langsung atau kerja terlebih dahulu? Meskipun sejak dulu saya punya plan untuk kerja sebelum S2, namun ingin rasanya saya segera berangkat saja menyusul kawan-kawan saya yang ada di jepang, atau menuju eropa mengikuti jejak beberapa kakak kelas yang sudah disana.  Akhirnya selama hampir sebulan saya melakukan riset (gaya amat bahasanya) dengan berdiskusi bersama beberapa orang dari berbagai latar belakang, termasuk berdiskusi dengan Mommy and Daddy tentunya.

Akhirnya keputusan saya sudah bulat, kembali ke plan awal, saya harus kerja dahulu. Bukan tanpa alasan, keinginan saya untuk langsung S2 mentok di pertanyaan bidang apa yang akan di ambil, dan bagaimana nanti akan diimplementasikan di negeri tercinta. Berhubung saya juga belum ada niatan untuk menjadi dosen, maka bekerja terlebih dahulu adalah sebuah keharusan bagi saya. perlu adanya insight terhadap kebutuhan lapangan yang cukup baik bisa didapat dari dunia kerja. Saya tidak ingin pada akhirnya menyesal menghabiskan 2 tahun usia pada sesuatu yang kurang bisa diimplementasikan dengan baik.

keinginan saya untuk langsung S2 mentok di pertanyaan bidang apa yang akan di ambil, dan bagaimana nanti akan diimplementasikan di negeri tercinta.

Kembali ke judul di atas, perkara mengabdi untuk negeri menurut saya adalah hal esensial. Pastinya memang tidak mudah, banyak case yang terjadi dimana ilmu tidak dihargai, susah mendapat dana riset, dan seterusnya. Namun bagaimanapun saya meyakini bahwa suatu saat negeri ini akan berubah menjadi lebih baik. Dengan semakin banyaknya kaum intelektual yang kembali, maka perhatian akan dunia keilmuan akan bergeser ke arah yang lebih baik. Lahirnya besiswa LPDP misalnya, ini adalah kemajuan luar biasa dimana pemerintah menggelontorkan dana yang begitu besar untuk para pemuda penerus bangsa yang akan melanjutkan studi, baik di dalam negeri maupun abroad.

Karena itu silahkan pergi sejauh-jauhnya, kejar ilmu sampai tempat lahirnya, tapi jangan lupa untuk kembali pada ibu pertiwi. Mari rasakan nikmatnya berjuang diatas aspal panas ibukota, diatas tanah hasil perjuangan para pahlawan , mengabdi untuk Indonesia. Suatu saat nanti, pilar-pilar penopang negeri ini akan pindah ke pangkuan anak-anak muda sekarang, karena itu saatnya #MudaBergerak, Hahaha.

Semoga idealisme ini tetap bisa saya pegang sampai seterusnya. Salam hangat 🙂

Mari bersama rasakan nikmatnya berjuang diatas aspal panas ibukota, diatas tanah hasil perjuangan para pahlawan , mengabdi untuk Indonesia.

 

 

Aku Harus Pulang

file

Malam ini jalan supratman sudah cukup renggang. Genangan air di aspal dan tetesan pada daun masih membekas sisa hujan tadi sore. Motorku melaju dengan kecepatan konstan membelah udara dingin yang merasuki sela-sela kemeja yang kukenakan. Beberapa pengendara masih melajukan tunggangannya menuju kediaman masing-masing untuk beristirahat. Namun pikiranku belum cukup tenang malam ini, ada beberapa hal yang mengganjal di sudut ruang kepala ini. Baca lebih lanjut

Apa Kabar

20150527_8905

banyak hal yang terjadi. tentang siang-malam, tentang kepastian-ketidakpastian, tentang rasa-tanya. dunia berputar sedemikian cepat meninggalkan tanpa memikirkan. terseok, seirama, atau bahkan lebih cepat. banyak rahasia yang tersimpan tanpa kita tahu jawabnya. banyak tanda tanya tentang masa lalu, saat ini, dan masa depan.
masih banyak kepingan-kepingan yang harus diperjuangkan. menyusun narasi besar dari bulir kecil makna  perjuangan. mencari titik semangat diantara tumpukan penghambat dan alasan. memimpikan banyak hal, jangan sampai hanya berakhir pada angan-angan.

teringat janji yang belum terpenuhi, sesal pada sisi lemah, dan rindu yang tertiup angin. sesekali, atau seringkali mencari tau melalui berbagai sisi, yang terkadang memberikan jawaban. meskipun seringkali tak ada kabar yang baru. atau ada namun tak dimengerti. Jadi, apa kabar diri(mu)?

Teruntuk Generasi Pewaris

www.hdnicewallpapers.com

Bukan tentang bagaimana mengakhiri sebuah perjalanan, ataupun menutup sebuah kisah. Kami menyadari betul bahwa di setiap guratan jejak yang kami tinggalkan, masih jauh terdapat cacat dan alpa. Kami sadari itu, dan kami mohon maaf yang teramat dalam atas segala tindak tanduk yang masih jauh dari kesempurnaan.

Generasi terbaik bukan tentang bagaimana ia membanggakan dirinya dengan deretan prestasi, atau sekedar memberikan ending yang berkesan. Generasi terbaik tercipta ketika ia bisa mendidik dan mewariskan generasi yang lebih baik setelahnya. Baca lebih lanjut

Siratan Setelah 3 Tahun

20150527_8905

It’s been a long day, without you my friend..

And I’ll tell you all about it when I see you again..

We’ve come along way, where we began..

Oh I’ll tell you all about it when I see you again..

when I see you again..

(See You Again-Wiz Khalifa)

Pagi ini kucoba untuk bangkit keluar dari kamar, membuka pintu rumah dan menikmati suasana hangatnya mentari yang mulai meninggi. Sura indah sahutan burung menambah kemesraan biru langit dan putihnya awan. Meski sedikit gontai karena kurang sehat, kucoba untuk berjalan untuk sekedar melepas penat dan melemaskan sendi-sendi. Hari ini tanggal 02 Juni, tepat 3 tahun lalu aku terbangun dengan semangat menggebu dan dag dig dug tak menentu karena harus menyampaikan kata-kata perpisahan wisuda selepas SMA kala itu.

Aktivitas pagi hari mulai nampak, meskpun hari ini libur, para penjual sarapan sudah mulai menjajakan dagangannya dengan peuh semangat. Beberapa orang keluar untuk berolahraga pagi, sendiri ataupun bersama keluarganya. Tiga tahun adalah waktu yang cukup lama untuk sebuah perpisahan, atau bahkan teralu sebentar untuk melihat sebuah perubahan. Apa kabar kawan? Masihkah hari-harimu dipenuhi senyum dan tawa itu. Senyum hangat dan tawa renyah yang entah kenapa hari ini sedikit kurindukan.

Beberapa pengendara motor memacu tunggangannya saling berkejaran dengan waktu. Kadang memang hari libur tidak diperuntukkan untuk semua orang. Di lapangan sana ada beberapa anak yang siap untuk kick off sepak bola dengan sandal jepit sebagai gawangnya. Banyak, amat banyak hal yang begitu kurindukan. Begitu indah ketika mengenangnya. Namun aku tidak ingin terjebak pada masa lalu. Karena akan ada 4 tahun, 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun, 8 tahun, dan terus hingga entah kapan berakhir.

Aku kembali tersenyum. Matahai yang semakin meninggi memaksaku untuk berjalan kembali menuju rumah. Setelah membeli nasi uduk lengkap dengan kerupuknya. Kau tahu kawan, dari sekian banyak organisasi, komunitas, kawan baru, almamater, dan apapun bentuknya. Kalian tetap yang terbaik dan tak tergantikan. Begitu bahagia ketika mendengar kabar baik dari kalian, dan begitu sedih ketika beberapa mulai melakukan sesuatu yang kurang bisa mencerminkan almamater kita bersama.

Akan ada banyak hari-hari yang harus kita hadapi di jalan masing-masing. Sulit memang untuk bisa sekuat dan sebaik seperti di masa-masa dahulu. Namun disinilah seharusnya kita berjuang sebagai bukti hasil tempaan 3 tahun yang telah kita lewati. Akan ada masa dikala kita akan sering bertemu satu sama lain. Dalam reuni-reuni kecil pernikahan yang akan dihelat oleh masing-masing dari kita. Dan aku akan sangat bahagia menyambut hari-hari itu nanti.