Archive for the ‘ kisah ’ Category

Aku Harus Pulang

file

Malam ini jalan supratman sudah cukup renggang. Genangan air di aspal dan tetesan pada daun masih membekas sisa hujan tadi sore. Motorku melaju dengan kecepatan konstan membelah udara dingin yang merasuki sela-sela kemeja yang kukenakan. Beberapa pengendara masih melajukan tunggangannya menuju kediaman masing-masing untuk beristirahat. Namun pikiranku belum cukup tenang malam ini, ada beberapa hal yang mengganjal di sudut ruang kepala ini. Baca lebih lanjut

Teruntuk Generasi Pewaris

www.hdnicewallpapers.com

Bukan tentang bagaimana mengakhiri sebuah perjalanan, ataupun menutup sebuah kisah. Kami menyadari betul bahwa di setiap guratan jejak yang kami tinggalkan, masih jauh terdapat cacat dan alpa. Kami sadari itu, dan kami mohon maaf yang teramat dalam atas segala tindak tanduk yang masih jauh dari kesempurnaan.

Generasi terbaik bukan tentang bagaimana ia membanggakan dirinya dengan deretan prestasi, atau sekedar memberikan ending yang berkesan. Generasi terbaik tercipta ketika ia bisa mendidik dan mewariskan generasi yang lebih baik setelahnya. Baca lebih lanjut

60 SGD for 3 Days in Singapore (Part I)

Perjalanan ke singapura dimulai dengan keberangkatan dari Bandung ke Cengkareng menggunakan Primajasa Bandung-Bandara Soetta yang kebetulan ane ambil dari batununggal. Kebetulan ini adalah penerbangan pertama ane, alias pertama kalinya naik pesawat. Makanya abis itu norak banget haha. Satu hal yang bikin ane khawatir adalah tas carrier yang gak dibolehin masuk kabin, karena dari size itu udah over, belom beratnya juga over (berat hampir 9kg). — tapi Alhamdulillah akhirnya ga ada masalah apapun, termasuk liquid yang ditas gak pada disita, hehe.

Foto rekayasa candid yang terlihat maksa

Foto rekayasa candid yang terlihat maksa

 

Oke balik lagi jadi pada pukul 06.00 tanggal 07 Agustus pesawat lepas landas membawa kami dari cengkareng ke Changi Airport. Dan seperti yang anda duga ane gak bisa tidur karena kebetulan dapet samping jendela dan pas banget bagian sayap, mekipun gak bisa dimakan kayak sayap ayam tapi gatau kenapa katanya spot paling bagus tuh sayap, iya aja lah ya. Hhe

Cek ig : @bangHamz buat video yang jauh lebih keren. endorsnya juga boleh qaqa

Cek ig : @bangHamz buat video yang jauh lebih keren. endorsnya juga boleh qaqa

Perjalanan diatas pesawat hanya menghabiskan waktu sekitar 1 jam, dan sampailah kami di changi airport, Bandara Internasional berkelas Internasional (yaiyalah). Tapi aseli ini bandara keren abess. Rata-rata alasnya karpet, ada tempat pijet, ada bioskop mini, ada mba-mba information center yang cantik (lah). Sejujurnya ane agak bingung pas udah sampe bandara mau gimana dulu, karena ketika mau melewati imigrasi singapura kita diharuskan mengisi sebuah form data diri dan alamat yang akan kita tuju di singapura, dan parahnya emang ane ngga pesen hotel/hostel terlebih dahulu, alhasil ane googling dulu buat masukin alamat hostel yang ‘rencananya’ mau kita tempatin nanti, haha. Fyi kalo butuh internet di changi tinggal menuju komputer-komputer yang berjejer aja, biasanya ada deket information center, dan disitu kita bisa internetan gratis via pc atau bisa juga mendaftarkan diri untuk dapet akses wifi.

Setelah mengisi form tersebut kami bersiap untuk keluar dan menuju Stasiun MRT. Hal paling menegangkan adalah saat akan melewati imigrasi. Karena beberapa kali ane baca imigrasi singapura ini cukup ketat, mereka gak mau ada orang gembel yang ujug-ujug dateng ke negara mereka, bukan berarti ane was-was karena bertampang gembel, tapi emang kita rencana disana mau ngegembel selama 3 hari, dengan 1 hari tidur di hostel, sisanya tidur di Mcd, hhe. Fyi ane berencana 3 hari selama di singapur, dan berapa uang yang ane bawa? 60 SGD! Keren gak? Itumah –kere- wkwk.

Kekhawatiran kedua setelah alamat hostel -yang sebetulnya belum dibuking- adalah nama ane sendiri, jadi nama ane di paspor dan di KTP tuh beda. Kalo di KTP Hamzah A, kalo di Paspor Hamzah Asadurrahman, jujur agak takut dikira dokumennya palsu dan ane dikira imigran gelap, dan dijebloskan ke penjara, dan disiksa dan ane gimana nanti nasib ikan patin di akuarium rumah? Hiks. Akhirnya dengan memberanikan diri ane tantang face to face itu petugas imigrasi, ehh dia ngomong Bahasa Indonesia ternyata :v, emang ketebak banget ya dari tampang ane yang kayak tukang baso komplek, hehe

1 menit yang gak berat sama sekali dilewati dengan baik, ane udah dapet cap dan siap bertualang. Eh masalah yang ditakutkan ternyata muncul, temen ane ketahan dan dibawa ke ruangan khusus petugas imigrasi. Ane yang udah lewat gak bisa ikut nemenin, akhirnya selama kurang lebih 15 menit temen ane berhasil lolos. Bukan kabur kayak di film Jackie chan, atau nyogok kayak ketilang di lampu merah, tapi ya emang gitu akhirnya tampang polos dan ndeso miliknya untuk kesekian kali menyelamatkan hidupnya. Usut punya usut ternyata masalahnya adalah namanya sangat pasaran, udah gitu paspornya masih kosong pula, jadi si petugas curiga itu dokumen palsu. Abis itu dia ditanya tentang mau ngapain di singapura, berapa lama, tinggal dimana, nomer booking hostelnya mana, tiket pulangnya ada ngga, dll. Tapi dia beralasan semua yang ditanya itu ada di ane, meskipun gak semua ada, untungnya petugasnya percaya. Hehe

Salah satu sudut Changi airport.

Salah satu sudut Changi airport.

Setelah tu kita langsung menuju stasiun MRT di bawah untuk membeli STP, ohiya sebelumnya jangan lupa ambil peta singapura setelah imigrasi, penting banget buat jalan-jalan nanti. Bagi yang belum tau STP (Singapore Tourist Pass) adalah kartu yang bisa digunakan untuk menaiki alat transportasi (bus dan MRT) secara bebas keanapun di singapura. Tinggal kita mau beli yang untuk berapa hari. Dan rejeki anak sholeh pertama yag ane dapet di singapura adalah pada hari Jumat, Sabtu, Minggu adalah hari perayaan ualng tahun negara singapura, jadi banyak sekali parade dan fireworks nantinya, juga pada hari minggu semua transportasi di singapura digratiskan. Ohyeah, lumayan bisa hemat duit buat oleh-oleh.

Hip-hip--- Horaay!!

Hip-hip— Horaay!!

Ini Bukan Commuter Line Tanah abang, suer

Ini Bukan Commuter Line Tanah abang, suer

Setelah itu kami langsung berangkat menuju destinasi pertama : Masjid Sultan. Karena hari itu hari jumat maka kami berencana untuk sholat Jumat terlebih dahulu. Namun karena kami telat dan hari itu hujan lebat plus kami tidak bawa payung, jadilah kami hanya sholat zuhur jamak ashar. Kami turun di stasiun Bugis Kemudian kami sambung dengan berjalan kaki. Yang unik dari masjid sultan ini adalah pengurusnya adalah orang-orang melayu, yang kita tau orang melayu itu hampir bisa dipastikan muslim. Kami sedikit berbincang-bincang dengan DKM setempat terkait sejarah masjid sultan. Mereka begitu excited ketika kami mengatakan bahwa kami berasal dari Indonesia, karena sejarah masjid sultan dibangun oleh orang Indonesia, Sultan dari salah satu kerajaan Nusantara dahulu.

Interior Masjid Sultan

Interior Masjid Sultan

:v

:v

 

Sok keren, padahal capek warbiyaza

Sok keren, padahal capek warbiyaza

Masjid sultan juga merupakan objek wisata bagi para turis, dari arsitektur terlihat sangat menawan dan indah. Dan enaknya lagi di dalam masjid terdapat keran air minum dingin dan panas, jadilah kami nyeduh energen dan mi gelas sambil menuggu hujan. Hhe

'Surga' bagi para backpacker

‘Surga’ bagi para backpacker

Destinasi selanjutnya adalah ke Aljuned. Dari browsing-browsing di hostelworld, saat ini hostel paling murah tidak lagi berada di bugis street, Chinatown, atau little India. Di aljuneid kami memesan hotel untuk sabtu malam seharga 15 SGD, kalua di bugis paling murah sekitar 20-25 SGD. Berhubung kami sudah pakai STP jadi tidak masalah hostel di aljuneid. Bagi yang tidak ada STP mungkin bisa mempertimbangkan di daerah lain yang ane sebutkan diatas, karena disana bisa langsung berbelanja atau sightseeing di sekitar hostel, tidak seperti di aljuneid yang tidak ada tempat apapun di sekitarnya, hehe.

Okey selanjutnya kami menuju merlion, fyi selama seharian dari jam 10 sampai sore kami terus menenteng tas carrier seberat 8.5 kg dan itu capekk bangetttt banget banget. Karena di singapur ini rata-rata tempat berdekatan dan bisa ditempuh dengan berjalan, akhirnya kami banyak sekali berjalan, belum lagi kami takut naik bis karena khawatir kesasar atau salah naik, jadilah kami hanya naik MRT dan itu capek bingitz. Bagi yang berniat menggembel seperti kami selama 3 hari di singapura ane sarankan bawa daypack saja dan isinya jangan banyak-banyak, kenakan sepatu yang nyamann pula supaya tidak kapalan. Alasan kami bawa carrier adalah kami masih akan lanjut 6 hari di Malaysia, huft.

Tas Carriernya minta turu, malu katanya udah gede masih digendong. (Alasan macam apa ini, pfft)

Tas Carriernya minta turun, malu katanya udah gede masih digendong. (Alasan macam apa ini, pfft)

Aku dan dia (Perahu-red)

Aku dan dia (Perahu-red)

Pemandangan Sore hari dari dekat esplanade

Pemandangan Sore hari dari dekat esplanade

Ada perahu di atas gedung. mungkin dia lelah berlayar

Ada perahu di atas gedung. mungkin dia lelah berlayar

 

Merlion sore itu sangat indah, kebetulan kami duduk dekat esplanade. Dan sore itu sebagian besar masyarakat sigapura keluar untuk menyaksikan festival kembang api dan beberapa konser.

Setelah menyaksikan tontonan gratis nan indah, plus mendapatkan beberapa marchindese yang dibagikan gratis, kami berjalan menuju Mc Doald City Hall untuk tidur makan. Dan tidak kami sangka petualangan kami yang jauh lebih seru akan hadir esok hari, ditambah pertemuan kami dengan bang Andre Tjen yang sudah keliling lebih dari 60 negara. Sampai sini dulu ya, see  ya 🙂

 

Kemana Ia Akan Bermuara?

15306

Ketika kau bertanya-tanya kemana rasa ini akan bermuara, akupun tidak tahu jawabannya. Meskipun banyak sekali tempat yang terlihat nyaman untuk disinggahi, bahkan hampir saja menepi pada sebagian kecil diantarnya, namun apalah daya. Aku rasa ia belum siap untuk benar-benar bermuara, setidaknya untuk beberapa waktu ke depan. Ya, samudera yang menghampar masih teramat luas. Masih terlalu dini untuk akhirnya berlabuh, dan menjemput seseorang untuk mengelana ombak demi ombak hingga akhir yang dituju.

Ini bukan tentang perasaan seorang manusia saja, setidaknya. Atau tentang bagaimana kita menerka-nerka akhir dari sebuah kisah klasik yang barangkali belum dimulai sepenuhnya. Aku tidak ingin menyimpulkan terlalu dini untuk masalah ini. Yang dapat kulakukan hanyalah terus berusaha mengakselerasi diri dan bersujud di saat orang-orang bermimpi.

Jika kau bertanya kemana cinta akan pergi, biarlah ia membumbung tinggi. Biarkan ia terbang mengangkasa bersama bat-bait doa yang terpanjat dalam riuh rendah diri ini. Yang kuyakini, ia masih menjadi misteri sampai saat itu tiba. Saat dimana Sang pemilik cinta menghadirkanku sebuah pemberian terindah sebagai jawaban atas syair-syair permintaan yang kerap kupanjatkan.

Sampai saat itu tiba aku tidak ingin menerka hadiah mana yang nantinya akan Ia berikan. Biarlah semesta bekerja, hingga akhirnya ia akan menjadi kejutanyang amat berharga. Sampai jumpa cinta. Terbanglah dengan bebas bagai seekor burung yang terlepas dari sangkarnya. Berenanglah bersama ombak, melayanglah bersama awan. Biarkan dirimu bebas hingga waktunya tiba, saat dimana kau harus bermuara pada waktu dan kesempatan yang tepat. Saat dimana aku telah siap mengarungi samudera bersamanya dalam ikatan sempurna sebuah janji suci yang telah dinisbatkan oleh sang pemilik semesta.

gambar dari sini.

Ayah Hebat (Part I)

3d-abstract_widewallpaper_running_54310

Ahad, 02 Juli

“ Ayo sedikit lagi, kamu pasti bisa “

“ hiaaaaa …”

Kau berlari melewatiku dengan tenaga yang tersisa. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakumu itu. Kau pasti bangga pada dirimu sendiri karena berhasil mencapai target yang sudah lama kau impikan. Berlari dengan jarak tersebut cukup melelahkan bahkan untukku. Kau sungguh hebat. Baca lebih lanjut

Pembelajaran Kecil

rainy-night-in-new-york-city

Malam itu Jakarta cukup berawan, meninggalkan riak-riak air dalam hembusan angin sisa hujan tadi sore. Mobilku melaju agak kencang. Arus lalu lintas yang cukup longgar adalah sebuah kenikmatan tersendiri bagi penghuni Ibu Kota dengan kepadatan penduduk yang amat tinggi. Jakarta semakin padat saja, entah berapa ribu orang tiap tahunnya dating kesini untuk mengadu nasib.

Sudah hampir 20 menit berlalu sejak aku menjemputmu di gedung tadi, namun kau masih saja diam. Suara musik rendah yang berputar sedikit mengurangi kekosongan suasana dalam mobil. Kau tahu, ada puluhan bahkan ratusan percakapan yang bisa aku mulai, dari yang terlihat penting sampai yang amat tidak penting. Namun urung rasanya diri ini, karena aku tahu suasana hatimu sedang tidak nyaman. Bingung rasanya memilih langkah agar tidak membuat keadaan lebih keruh. Baca lebih lanjut