Ayah Hebat (Part I)

3d-abstract_widewallpaper_running_54310

Ahad, 02 Juli

“ Ayo sedikit lagi, kamu pasti bisa “

“ hiaaaaa …”

Kau berlari melewatiku dengan tenaga yang tersisa. Aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah lakumu itu. Kau pasti bangga pada dirimu sendiri karena berhasil mencapai target yang sudah lama kau impikan. Berlari dengan jarak tersebut cukup melelahkan bahkan untukku. Kau sungguh hebat.

Sejurus kemudian kau langsung merebahkan tubuhmu diatas rumput taman. wajah merahmu dan nafasmu yang masih tersengal sengal menandakan dirimu telah berusaha secara maksimal. Aku ikut berbaring di sebelahmu, menatap langit pagi yang dipenuhi awan. Kau tertawa lepas dan berceloteh mengutarakan kegembiraanmu. Keringat segar mengalir dari dahimu dan turun ke dekat telinga. Deru nafasmu perlahan berkurang dan menjadi stabil. Aku ikut tertawa dan memuji capaianmu pagi ini.

Suasana kembali hening, menyisakan deru angin yang menyapu rumput hijau taman. Langit amat indah pagi hari itu. Tidak terlalu terik, dan tidak mendung juga. Biru putih sempurna yang akan membuat nyaman siapapun penikmatnya. Dan tiba-tiba saja kau mengejutkanku dengan sebuah lontaran kalimat.

“ kelak aku ingin menjadi seorang ayah yang hebat, yah. Seperti ayah sekarang “ , ujarmu begitu polosnya.

Sejenak aku terpaku. Aku bingung bagaimana cara membalas perkataanmu. Terlalu terkejut atas ucapan yang keluar dari mulutmu itu, dan juga terlalu sedih melihat diriku sendiri yang masih jauh dari kata hebat.

“ hmm, kalau gitu bagaimana kalau kita saling belajar bersama untuk menjadi ayah yang hebat? “ , balasku.

Seketika kau bangun dari baringmu dan berucap, “ siaap kapten “.

Kamipun tertawa lepas dan kemudian berdiri untuk beranjak pulang.

“ayo kita pulang, bunda pasti sudah menyiapkan nasi goreng telur ceplok favoritmu di rumah”, ujarku sambil menggandeng tangannya dan berjalan menuju rumah.

“yeayy, asikk..”, jawabmu singkat.

Menurutku bahagia itu sederhana. Bisa berlari pagi bersamamu pada akhir pekan yang cerah, sambil sedikit bercerita tentang mimipi-mimpi di masa depan. Sekali lagi aku bersyukur atas kasih sayang Allah yang mengizinkanku menikahi bundamu di usia kami yang masih muda. Sehingga tubuhku masih bugar untuk berolahraga, bermain, dan menghabiskan waktu bersamamu. Karena aku ingin lebih dari sekedar ayah yang hebat untukmu. Tapi juga sebagai teman dan sekaligus sahabat yang mewarnai hari harimu.

gambar dari sini.

Iklan
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Iklan