KISAH CINTA YANG MENAKJUBKAN DARI KAU, AKU DAN SEPUCUK ANGPAU MERAH (revisi)

Saat ini banyak sekali novel maupun cerpen bertemakan cinta yang dibuat untuk kawula muda, terutama remaja, beredar di masyarakat. Namun sangat sulit didapati yang benar-benar memiliki bobot. Sebagian besar dari novel-novel tersebut hanya berisi tentang cinta monyet ataupun kisah cinta masa sekolah yang berisi ungkapan-ungkapan galau yang sangat ngetren, namun kurang memiliki manfaat.

Nah bagi anda yang ingin membaca Novel bertemakan cinta namun berbobot, karya Tere Liye yang satu ini bisa dijadikan pilihan. Judulnya adalah kau, aku dan sepucuk angpau merah. Novel ini benar-benar memberikan pencerahan mengenai makna cinta, bahkan makna hidup sekalipun. Berisi kata-kata bijak dan kisah bermakna mendalam yang banyak sekali hikmahnya. Tentunya cocok bagi siapa saja yang sedang dikemelutkan soal cinta. Dijamin nggak ketinggalan zaman! Berikut sinopsisnya.

***

Kisah dalam novel ini berawal saat Borno, Bocah  melayu asal Pontianak ,ditinggal pergi oleh ayahnya. Sang Ayah yang amat dicintainya, yang tak kenal lelah bekerja siang malam sebagai nelayan demi menghidupi keluarganya. Ketika itu, usianya masih dua belas tahun, masih sangat belia untuk menerima kenyataan pahit tersebut.

Pada malam itu, Borno bersama ibu dan tetangga-tetangganya pergi menuju rumah sakit tempat ayahnya dirawat. Setelah sebelumnya diketahui bahwa sang Ayah sedang sekarat karena disengat ubur-ubur ganas lautan. Ketika memasuki ruang UGD, Borno kecil yang belum mengerti apa-apa  tak kuasa menahan amarah yang tiba-tiba memenuhi rongga dadanya. Tangisnya seketika meledak.

”Bapak belum mati, Bapak belum mati!… Kenapa dadanya dibelah..? Kenapa?! Hiks, hiks..”,isaknya dalam linangan air mata.

Sang dokter berusaha menjelaskan bahwa Ayah Borno telah mendonorkan Jantungnya sebelum ia benar-benar meninggal. Memberikan bagian terpenting dari hidupnya. Melakukan tugas yang amat mulia bahkan di saat dirinya sedang sekarat. Bersamaan dengan itu, semua mata tertunduk menahan kesedihan dan haru yang luar biasa. Malam itu, kisah Borno sang bujang Kapuas dimulai.

Sepuluh tahun berselang, Borno telah tumbuh dewasa. Ia berusaha mencari pekerjaan untuk bisa menghidupi dirinya, juga ibunya. Segala jenis pekerjaan ia coba, mulai dari buruh di pabrik karet yang bau, pencari kucing tetangga yang tidak jelas, sampai tukang karcis kapal feri yang membuanya dibenci tetangga. Namun, pekerjaan yang cocok tak kunjung ia dapat. Borno tetap berusaha mati-matian mencari pekerjaan, mencoba segala cara asalkan bisa mendapat rezeki yang halal.

Melihat pekerjaan Borno yang serampangan, kerabat serta sahabat-sahabatnya merasa iba. Sehingga mereka saling iuran untuk membelikan Borno sebuah sepit.  Jadilah Borno memiliki pekerjaan tetap menjadi seorang pengendara sepit (sejenis perahu kecil dengan motor untuk mengantar orang-orang menyeberang sungai Kapuas). Pekerjaan yang diharamkan bagi Borno oleh mendiang ayahnya dahulu.

Meskipun pada awalnya ia menolak mentah-mentah (karena alasan tadi), pada akhirnya Borno amat menyukai pekerjaan ini. Ya karena disinilah segalanya berawal. Saat ia bertemu Gadis sendu nan menawan bernama Mei. Seorang Gadis  keturunan china yang membuat Borno belajar arti kata ‘CINTA ’ untuk pertama kalinya. Borno yang begitu lugu dan polos tidak mengerti perasaan yang bergetar didadanya, perasaan yang belum pernah ia dapatkan sejak dahulu. Perasaan yang membuatnya seakan lunglai ketika namanya disebut oleh gadis itu.

Hidupnya kini berubah 180 derajat. Ia jadi sering bertingkah aneh yang membuat ibunya, sahabatnya, juga tetangga-tetangganya merasa heran. Ia juga menjadi lebih ceria dan menjadi lebih bersemangat dalam hidup. Ya karena alasan itu tadi. Karena gadis itu Borno rela melakukan hal apapun bahkan sampai mengecewakan sahabatnya, karena gadis itu pula Borno rela bangun pagi-pagi untuk mengantre sepit miliknya di urutan kedelapan. Sehingga ia bisa mengantar Mei melintasi sungai Kapuas ke sekolah tempatnya mengajar.

Namun bukan kisah cinta namanya kalau tidak ada derita. Dibalik semua kebahagiaan yang dialaminya, Borno harus menghadapi berbagai tantangan berat untuk mendapatkan cintanya. Saat dimana ia bertemu dengan Ayah Mei yang jelas-jelas tak suka akan hubungan mereka. Juga saat Mei terpaksa pindah ke Surabaya untuk jangka waktu yang lama, yang jelas-jelas membuat Borno dirundung durja karena kehilangan separuh jiwanya. Yang membuat hidupnya berputar kembali 180 derajat ke arah sebaliknya.

Di saat hidupnya terasa hampa karena ditinggal Mei, datanglah gadis tionghoa lain yang tak kalah menawan, bahkan lebih ceria dan lebih riang bernama Sarah. Seorang dokter gigi yang amat baik pada Borno, yang membuat pikirannya teralihkan dari Mei yang berada di Surabaya.

Namun tak disangka-sangka, kisah cinta Borno malah semakin rumit, meskipun Borno sempat bertemu Mei di Surabaya dan pada akhirnya Mei kembali ke Pontianak. Masalah tidak selesai sampai disitu, bahkan semakin pelik. Selain dihadapkan dua pilihan antara Sarah dan Mei. Borno juga dibuat pusing tak keruan oleh Mei yang mendadak tak mau ditemui olehnya, tanpa memberikan sedikitpun alasan.

Kehidupan Borno semakin sulit saat dimana ia mengetahui benang merah antara dirinya, Sarah dan Mei. Yang pada akhirnya semuanya menjadi semakin jelas namun menjadi semakin rumit pula. Karena tak disangka-sangka, Ibu Mei adalah Dokter yang mencangkok jantung Ayah Borno yang belum meninggal kala itu. Sedangkan pasien penerima donor tersebut adalah ayah kandung dari Sarah, yang juga merupakan kerabat Mei.

Dibantu sahabatnya, Andi. Borno berusaha menyelesaikan cobaan demi cobaan untuk menemukan Cinta Sejatinya. Tak lupa dengan nasihat dari Pak Tua, Pria bijak yang sudah ia anggap ayah kandungnya. Juga dukungan dari Bang Togar, Cik Tulani, Koh Acong, Bang Jau, dan seisi gang sempit lainnya. Mereka terus mewarnai kisah cintanya menjadi begitu luar biasa, tak terduga.

***

Novel ini sejujurnya memberikan banyak sekali pelajaran hidup bagi kita semua. Tak hanya soal percintaan, namun juga persahabatan dan kekeluargaan. Bagaimana perasaan haru kita terenyuh saat Bang Togar, Pria besar pentolan Kapuas yang sudah dianggap  Borno sebagai kakak kandungnya, melarang Borno untuk menjual sepit pemberiannya. Padahal Borno melakukan hal itu demi mendapatkan modal membuka bengkel yang telah ia idam-idamkan sejak dulu. Bang Togar memang tidak salah karena dialah yang mengusahakan dengan sekuat tenaga supaya sepit itu bisa ada. Ia mengetuk tiap pintu rumah di gang sempit untuk meminta dana. Menjelaskan dengan peluh bercucuran dan mulut berbusa agar para tetangganya mau membantu Borno. Namun sekarang, Borno dengan entengnya ingin menjual sepit pemberiannya itu.

Saat perasaan Borno bercampur aduk mendengar penjelasan tersebut. Menahan sesak yang amat mendalam karena harus mengubur impiannya. Bang Togar seketika menghampiri Borno dan memeluknya dengan erat. Dalam isak tangis yang seketika tumpah, Bang Togar  dengan lapang dada mengizinkan Borno untuk menjual sepitnya, bahkan tak segan-segan menawarkan bantuan apapun kepada Borno. Dalam pelukan air mata haru itu, Bang Togar bersumpah dalam hatinya untuk terus mendukung Borno dalam menggapai mimpinya.

Tidak hanya kesedihan, humor-humor  lucu ala Tere Liye juga ada dalam novel ini. Saat Borno merelakan dirinya berdiri berjam-jam mencari alamat Mei,menelepon setiap nomor dengan kata kunci sulaiman (nama keluarga Mei) yang ada di buku catalog telepon kota Surabaya. Tiba-tiba saja Mei sudah ada di belakangnya,membuatnya kaget terpaku seketika. Begini kutipannya.

gagang telepon diangkat, aku benar-benar gugup.

“Abang Borno?”

Alamak. Aku tersedak oleh panggilan itu. Gagang telepon yang kupegang nyaris terjatuh.

“apa yang Abang lakukan disini? Ya ampun, benar-benar kejutan.”

Aku sedang membeku,lihatlah, gadis penyebab tingkah bodohku dua hari terakhir telah berdiri anggun di hadapanku, mendorong kursi roda dengan ibu-ibu tua di atasnya.

“Mei?” hanya itu responsku setelah sepuluh detik mematung.

“Aku baru tahu, sejak kapan Abang jadi petugas penerima telepon di sini? Sepit di Pontianak ditinggal?” Mei tertawa renyah, bergurau.

‘Eh aku? Aku sedang menelepon kau, eh, maksudku meminjam telepon saja.’

Ya ampun,sungguh lugu dan polos si Borno. Tidak hanya ini, masih banyak hal lucu lain yang membuat kita tertawa sendiri, karena barangkali, kita juga pernah melakukan hal bodoh macam itu. Bahkan mungkin lebih parah.

Novel ini juga sarat akan kata-kata bijak tentang cinta dari Pak Tua, seorang bujang yang telah berpuluh-puluh tahun melanglang buana mengelilingi hampir separuh dunia. Dengan jutaan pengalaman cinta berharga yang ia wariskan pada Borno, dan pada kita juga barangkali. Seperti kutipan di bawah ini.

“Kalau untuk Andi, Pak Tua punya kalimat bijak dan cerita hebat yang cocok baginya. Lantas untukku, apakah pak tua juga punya”, Tanya Borno.

“Tentu ada, Borno. Tentu ada. Tapi aku akan membiarkan kau sendiri yang menemukan kalimat bijak itu. Kau sendiri yang akan menulis cerita hebat itu. Untuk orang-orang seperti kau. Yang jujur atas kehidupan, bekerja keras, dan sederhana. Definisi cinta sejati akan mengambil bentuk yang amat berbeda, amat menakjubkan”, Ujar Pak Tua.

Sungguh bijak, bukan? Nah bagi anda yang telah membacanya, anda akan tahu bahwa novel ini jelas-jelas membuat iri para bujang dimanapun mereka berada. Bagaimana tidak? Seoarang laki-laki polos macam Borno, yang tak pernah merasakan cinta hingga umurnya 22 tahun, secara tiba-tiba disukai oleh wanita cantik Tionghoa yang sama sekali tidak dikenalinya. Bahkan saat mereka kebetulan bertemu di suatu tempat untuk kesekian kalinya, Mei selalu berkata, “Sungguh kejutan yang menyenangkan ya, Bang.”  Alamak, siapa pula yang tidak iri dibilang seperti itu oleh gadis rupawan  yang baru pertama kali ditemui.

Dibalik kisah tentang perjuangan Borno untuk mendapatkan cintanya, yang membuatnya rela melakukan apapun hanya untuk bisa melihat Mei meskipun sesaat. Kisah cinta yang membuat kita manggut-manggut sendiri dan bilang dalem hati,  ‘gue banget nih’. Disini Tere Liye benar-benar bisa menggambarkan kisah cinta luar biasa yang seakan membuat pembaca mengalaminya sendiri.

Salah satu pelajaran berharga yang bisa kita ambil, terutama bagi bujang-bujang remaja dimanapun kalian berada. Bahwa perjalanan cinta kita masih panjang. Masih banyak hal-hal yang akan berubah di masa mendatang, masih banyak hal yang perlu kita pelajari. Tak perlulah memaksakan segalanya sekarang, karena cinta itu tidak pernah memaksa. Dan percayalah, apapun yang terjadi, Tuhan pasti akan mempertemukan kita dengan pasangan kita kelak. Di saat yang tidak terduga sekalipun. Ya, karena segala sesuatu akan indah pada waktunya.

Judul Buku                  : Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan Pertama         : Januari 2012
Tebal                           : 512 halaman, paperback
ISBN                           : 9789792279139

Iklan
    • natalia
    • Maret 8th, 2013

    Ceritanya bagus dan bermanfaat yah. Kunjungi blog saya juga yah. Di natastories.blogspot.com
    Itu adalah tulisan pertama saya di blog karena banyak yang menginspirasi saya utk menulis. Makasi 

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s